Seringkali kalau saya sedang memasang berita penerbangan di website ini saya merasa bahwa saya ingin mengganti bahasanya karena menerut saya informasi dari media mengenai penerbangan tidak meningkatakan pengertian masyarakat terhadap isu-isu penerbangan maupun dapat meningkatkan resiko terhadap keselamatan penerbangan di Indonesia.
Misalnya hari ini saya sudah memasang berita "Lion Air Gagal Mendarat di Kendari". Apa artinya cerita ini, apa artinya kata "gagal" menurut wartawan-wartawati, persepsi umum, dan implikasi untuk pilot?
Kata salah satu wartawan (hari ini):
|
"Dari sudut pandang wartawan, sebuah judul tidak lahir begitu saja. Judul berita harus dipilih yang atraktif, komunikatif, langsung dimengerti pembaca, singkat, dan lugas. Karena itu, pilihan katanya pun diusahakan setepat mungkin di mata publik secara luas, meski kadang kurang tepat bagi pembaca tertentu."
"Pemakaian kata "gagal", misalnya pada kasus ini, dipilih karena langsung merujuk pada fakta pesawat tersebut memang gagal mendarat di bandara tujuan dengan mengesampingkan penyebabnya."
|
Apa maksudnya pesawat Lion Air "Tidak Jadi" Mendarat di Kendari. Apakah bahasa "gagal" adalah "setepat mungkin"? Dari pengertian saya Lion Air tidak gagal karena kelihatannya walapun ingin tidak sampai coba mendarat.
Kata seorang penumpang:
|
"Kami juga merasa tegang saat berada di udara, pesawat tumpangan kami beberapa kali berputar-putar untuk mendarat di Bandara Kendari, namun karena cuaca buruk sehingga pesawat ini mendarat ke Bandara Makassar, ujarnya."
|
Dari cerita penumpang, kelihatannya pilot memang membuat keputusan yang menyelamatkan penumpang dari keadaan bahaya, dan terbaik. Dasarnya, pilot membuat keputusan untuk tidak mendarat, bukan gagal. Menurut saya kasus di Yogyakarta, Riau, Jakarta dan Bandara Husein Sastranegara sebagai contoh yang benar "gagal mendarat" tetapi nama yang diberikan adalah Tergelincir.
Yang penting menurut saya adalah mengapa kasus-kasus begini terjadi? Mengapa walapun cuaca atau keadaan (airspeed) tidak cocok pilotnya masih mencoba mendarat?
Apa artinya umum terhadap kata gagal? Menurut kamus Edisi Ketiga DepDikNas:
"ga.gal v 1 tidak berhasil; tidak tercapai (maksudnya): keinginannya untuk menjadi juara ..; 2 tidak jadi: tahun ini panen --;"
Kalau kita menyebut Beliau gagal.. atau Lion Air gagal... apa persepsi pada umum "tidak berhasil", "tidak tercapai", atau "tidak jadi"? Mengapa ini penting?
Saya yakin kepada seorang atau perusahaan ini sangat penting!
Apa lagi dapat membuka jendela supaya kita mungkin dapat melihat salah satu sebab pilot menerima resiko dan coba mendarat.
Siapa atau perusahan yang mana ingin disebut gagal?
Saya masih ingat dengan jelas pengaruhi dari "peer pressure" maupun dari orang-orang lain yang ada di lapangan terbang waktu saya sendiri melatih mendarat "crosswind". Saya kadang-kadang terus mendarat, walapun saya sudah tahu bahwa kontrol saya sudah kurang dan daratannya akan kacau sekali. Perasaan saya pada watu itu adalah lebih baik mendarat walapun agak kacau daripada saya kelihatannya tidak bisa (atau gagal).
Coba membayangkan perasaan pilot komersial yang tahu bahwa besok di seluruh media Indonesia akan ada cerita seperti "Lion Air Gagal Mendarat". Apakah ini mungkin dapat mempengaruhi keputusannya? Sebagai pilot profesional, seharusnya tidak. Tetapi kita semua (termasuk pilot) adalah manusia dan dapat dipengaruhi oleh kebudayaan sosial, maupun kebudayaan media.
Memang yang sangat penting adalah kita (publik) dan perusahaan penerbangan menerima keputusan-keputasan kapten pesawat dengan baik dan menghormati keputusan kapten pesawat kita yang pasti akan memutuskan yang terbaik untuk kita (penumpangnya). Kadang-kadang saya membaca bahwa penumpang menjadi cerewet karena pesawatnya "divert" dan mendarat di bandar udara yang lain, tetapi saya belum pernah membaca cerita bahwa penumpang salut kapten pesawat yang mendarat di airport lain, walapun beliau mungkin sudah menyelamatkan mereka dari situasi yang sangat bahaya.
Kita perlu meningkatkan pengertian publik mengenai isu ini.
Salah satu wartawan katakan, "Mungkin yang perlu kita ubah adalah persepsi bahwa "gagal" itu jelek atau salah, terutama di dunia penerbangan."
Tetapi untuk merubah "persepsi" semua masyarakat di Indonesia saya angap ini adalah "Mission Impossible" (tidak mungkin). Jauh lebih gampang, dan dapat menunjuk profesionalisme wartawan-wartawati kalau mereka tidak menggunakan kata "gagal" yang mungkin dapat diganti dengan kata-kata seperti "tidak jadi".
Menurut saya sendiri, pilot yang memilih "divert" ke airport lain atau "go-around" adalah "hero" dibanding dengan pilot yang memaksakan diri walapun mereka tidak 100% yakin bahwa mereka dapat mendarat dengan selamat.
Kami di BandarUdara.Com Salut Kapten Pesawat Lion Air kemarin dan semua Pilot yang Mengutamakan Keselamatan Penumpangnya.
Mohon membaca "Bencana Penerbangan dan Pembelajaran"
Selamat terbang!
Phillip Rekdale
BandarUdara.Com
19 April 2009
|